Welcome..^^

Welcome to My Town friends...
Enjoy it..^.^

Selasa, 27 November 2012

[ my FF ] Rainy


~Rainy~
           
“Aku benci hujan..!!!”
SeoHyun berteriak dikamarnya. Diluar, hal yang paling SeoHyun benci datang bertubi-tubi membasahi setiap sudut di permukaan bumi. Memang sekarang adalah musim dingin, musim yang menciptakan kenangan buruk bagi SeoHyun.
“Seo-ah,, pamanmu sudah menunggu di mobil, cepatlah bersiap…” kata ahjumma.
                “Iya, aku sudah siap..” jawab SeoHyun sambil keluar dari kamarnya dan berjalan menuju garasi mobil. Disana mobil sedan berwarna hitam mengkilat itu sudah menyala. SeoHyun membuka pintu dan duduk didalamnya.
7 menit kemudian SeoHyun sudah berada di kelasnya. Sebenarnya jarak antara rumah dan sekolahnya cukup dekat, tapi ahjumma dan ahjussi tahu betul bahwa SeoHyun benci dengan hujan.
“SeoHyun, apa kamu sudah mengerjakan tugas matematika?” kata TaeRi membuyarkan lamunan SeoHyun.
                “Ah.. TaeRi, sudah, kenapa?” balas SeoHyun
                “Boleh aku pinjam? Ada yang tidak aku mengerti..” kata TaeRi.
                “Ne..” SeoHyun membuka tas dan mengambil buku tugasnya “Ini..” SeoHyun memberikan buku itu kepada TaeRi.
                “Aku pinjam dulu ya..” TaeRi mengambil buku itu. Dan saat membukanya, TaeRi menemukan sebuah surat.
                “Seo-ah,, apa ini..?” TaeRi memberikan surat itu kepada SeoHyun.
                “Ng? mana?” SeoHyun mengambil surat itu dan membukanya. TaeRi ikut mengintip surat itu, disana tertulis :
Hy SeoHyun..
                Maaf sebelumnya, mungkin kamu terganggu dengan tulisanku ini, tapi bolehkan aku tetap seperti ini? Hanya dengan tulisan inilah aku bisa tersenyum, karna dengan menulis ini, serasa aku berbicara secara langsung denganmu.
                                                                                                                                                                K.W.J
“K.W.J??” SeoHyun berkata pelan.
                “Ciieee.. Secret fan ni yee…?” goda TaeRi.
                “Ah, biasa saja Tae-ah,” balas SeoHyun sambil tersenyum.
                “Ya udah, aku bikin tugas dulu ya..” kata TaeRi.
                “Iya..”
                “K.W.J? secret fan? Apaan ini?” kata SeoHyun dalam hati.
                Teng..Teng..Teng…
Bel sekolah berbunyi. Guru yang mengajar jam pertama pun masuk. Selama kegiatan belajar, SeoHyun tidak fokus terhadap pelajaran, fikirannya hanya tertuju pada sebuah kertas yang didapatnya tadi di buku tugasnya. Begitupun saat sampai dirumah, dia masih mencoba mengira-ngira siapa itu K.W.J.
. . . .
Pagi ini  SeoHyun juga menemukan surat dari pengirim yang sama, K.W.J. Hal itu terus berlanjut sampai suatu hari, rasa penasaran SeoHyun di ambang batas. Lalu dia juga menulis surat yang bertuliskan:
K.W.J
                Aku tidak mengenalmu, dan jujur, aku merasa sedikit terganggu akan kedatangan surat dari seseorang yang tidak aku kenal, karna itu, aku akan menunggumu besok, pukul 11.00 am di taman air.
                                                                                                                                                SeoHyun
~~
SeoHyun meletakkan surat itu di laci mejanya, tempat surat-surat dari K.W.J dia temukan 2 minggu ini.
Keesokan harinya, yaitu hari minggu, SeoHyun bangun lebih pagi dari biasanya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, SeoHyun pun bersiap untuk menemui K.W.J.
Setelah minta izin dengan ahjumma, SeoHyun pun pergi menuju taman air, tempat dia dan K.W.J akan bertemu.
Sesampainya disana, SeoHyun duduk di salah satu bangku taman. Dia melihat jam tangannya.
“Ah,, masih 5 menit lagi..” SeoHyun berguman pelan. Tiba-tiba..
                “Hai SeoHyun…” seseorang bersuara berat menyapa SeoHyun.
Merasa ada yang memanggil namanya, SeoHyun menatap orang itu.
“Kamu… K.W.J ??” Tanya SeoHyun.
“Iya.. Ah perkenalkan, nan Kim WonJi imnida…” kata pria itu sambil menjulurkan tangannya .
                “Seo Jo Hyun imnida…” SeoHyun menjabat tangan itu dan tersenyum.
. . . . .
Mereka berdua berjalan mengelilingi taman air itu sambil bercerita tentang diri mereka masing-masing. Tiba-tiba..
Tik..Tik..Tik..
“Ah..Hujan…!!” SeoHyun berlari untuk mencari tempat berteduh. Dan WonJi mengikutinya dibelakang. Sesampainya di sebuah emperan toko, tubuh SeoHyun bergetar, dia menggigil hebat. Melihat hal itu, spontan WonJi membuka jacketnya dan dibalutkannya ketubuh SeoHyun. Dia amat terkejut melihat hal itu.
“Apa kau kedinginan SeoHyun?” kata WonJi cemas.
                “Aku benci hujan..!! Aku benci HUJAN..!!” SeoHyun berteriak.
                “Kenapa?”
“Mereka… Mereka telah membawa orang yang sangat aku sayang…!!” air mata SeoHyun mulai menetes. Setiap kali hujan turun, air matanya sangat sulit di kendalikan, seperti saat sekarang ini.
“Siapa Seo-ah?”
“Orang tuaku… Ah.. Tidak… bisakah.. hujan itu.. ber.. hen..ti..??!” SeoHyun menangis. Melihat hal itu, WonJi segera memeluk SeoHyun dan menenangkannya.
                “Sudah.. itu kehendak tuhan SeoHyun,, sudah.. jangan menangis.. Uljima..”
                “Karena hujan.. mereka.. pergi… Aku benci HUJAN…!!” isak SeoHyun.
                “Sudah SeoHyun,, uljima..” WonJi meredam suara tangisan SeoHyun dalam pelukannya.
. . . . .
Dirumahnya, ahjumma dan ahjussi khawatir. Hujan turun sangat deras, dan SeoHyun berada di luar sana. Terakhir dia kehujanan, SeoHyun hilang kendali, dia akan menangis dan berteriak sekeras-kerasnya.
“Hyun-ah, SeoHyun masih diluar sana ! apa yang akan terjadi dengannya..?!” kata ahjumma cemas.
                “Tenang,, dia akan segera pulang..” ahjussi menenangkan ahjumma.
Kriieek..
Pintu pagarnya terbuka dan terlihatlah SeoHyun yang sedang menggigil yang dibimbing oleh WonJi.
“SeoHyun..!!” teriak ahjumma dan langsung membawa SeoHyun masuk.
                “Ahjussi, WonJi pulang dulu ya..” pamit WonJi.
                “Ah, tidak masuk dulu, hmm.. Won-” ahjussi mengeja nama WonJi
                “WonJi ahjussi,, tidak usah ahjussi, sudah malam, lain kali saja…”
                “Baiklah WonJi-ssi, gomawo telah membawa SeoHyun pulang dengan selamat..” kata ahjussi.
                “Tidak apa-apa ahjussi, ya sudah, WonJi pamit, Annyeong haseyo ahjussi..”
. . . . .
Semenjak hari itu, SeoHyun dan WonJi semakin dekat. Mereka berdua sering pergi ke taman air itu, meski hanya untuk berjalan-jalan sore, dan juga mereka berhubungan bukan lagi dengan surat, tetapi melalui e-mail.
                Tidak terasa kedekatan mereka telah terjalin selama 3 bulan. Dan pada suatu hari..
“Ahjumma, SeoHyun pergi keluar sebentar ya…” kata SeoHyun saat keluar dari kamarnya.
                “Ah.. cantik sekali kamu Seo-ah, mau kemana nih? Pergi kencan dengan WonJi ya?” goda ahjumma.
                “Hehehe….” SeoHyun mengangguk tersenyum.
                “Iya Han-ah.. hati-hati ya…” balas ahjumma.
                “Ne, Arraseo ahjumma, annyeong…” kata SeoHyun yang langsung hilang dari pandangan ahjummanya.
Sesampainya di taman air-tempat biasa mereka bertemu- SeoHyun duduk di salah satu bangku taman, lalu dia melihat jam tangannya.
“Masih 10 menit lagi. Apa aku terlalu cepat datang ya?” kata SeoHyun dalam hati. Namun sedetik kemudian dia tersenyum, meski sekarang adalah musim semi, tapi dia memakai jacket. Jacket yang dulu dibalutkan Wonji padanya. SeoHyun merasa sangat senang, karena dia akan segera bertemu dengan namja yang telah 1 minggu ini tidak bertemu.
Pukul 11.00 am.
Pukul 11.35 am.
“Kenapa Won-ah belum datang juga ya? Tidak biasanya dia terlambat seperti ini..” SeoHyun mulai khawatir.
Lalu tiba-tiba saja seorang yeoja berlari menghampiri dan menggenggam tangan SeoHyun.
“Apa kau SeoHyun-ssi?” kata yeoja itu.
                “Iya, kau siapa? Dan tanganku?” kata SeoHyun berusaha melepaskan genggamannya.
                “Ikut aku..!”
                “Hei.. aku sedang menunggu seseorang, kenapa kau membawaku pergi dari sini?! Dan aku tak mengenalmu..!” SeoHyun berusaha melepaskan genggaman yeoja itu, tapi genggamannya sangat kuat.
                “Kau akan menyesal jika kau tidak ikut denganku sekarang..!!”
Yeoja itu memaksa SeoHyun untuk ikut dengannya. Mereka masuk kedalam sebuah mobil dan langsung pergi menuju sebuah gedung yang berwarna putih. Sesampainya disana, yeoja yang menggenggam tangan SeoHyun itu membawanya ke sebuah ruangan VIP. Sang gadis membuka pintu dan menyuruh SeoHyun ikut masuk dengannya. Diranjang ruangan itu, terdapat sosok yang sedang dinanti SeoHyun terbaring lemah. SeoHyun terkejut. Dia hanya bisa menutup mulutnya dengan punggung tangannya.
“Boya??!! Kenapa….!!” SeoHyun tak percaya melihat keadaan namja itu.
“Sebelumnya, aku adalah WonJa, adiknya WonJi oppa. Nae oppa.. dia menderita kanker otak. Sudah berkali-kali kami sekeluarga memintanya untuk melakukan Kemotrapi. Tapi dia tidak pernah mau melakukannya. Menurutnya, itu adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Tapi tiba-tiba saja seminggu yang lalu dia mengatakan bersedia melakukan kemotrapi, kami yang mendengar hal itu amat sangat senang, aku bertanya kepadanya apa yang membuat dia mau melakukan kemo, dia berkata sambil tersenyum ‘sekarang, aku memiliki alasan untuk hidup’. Aku bingung, tapi aku tetap senang mendengar hal itu. Kami sekeluarga segera menuju rumah sakit untuk melakukan kemo, dan dokter pun setuju. Namun ternyata itu sudah terlambat, kanker tersebut sudah memasuki tahap stadium akhir, tubuhnya menolak proses kemo itu, dan dia koma sampai sekarang. Kau tahu eonni, akulah yang 1 minggu ini membalas emailmu, dia pernah bilang padaku untuk tidak memberitahumu. Tapi, ahhh… melihat dia dalam kondisi seperti ini, aku tak sanggup, ku mohon eonni, kaulah alasannya untuk hidup, sekarang, berikan kepadanya alasan itu… jebal…!” kata WonJa sambil menangis. SeoHyun yang mendengar cerita itupun tampak berkaca-kaca, tapi dia tetap saja tidak percaya melihat hal itu.
Perlahan, SeoHyun melangkahkan kakinya mendekati ranjang itu. Tangannya bergerak menyentuh wajah WonJi. Membelainya lembut. SeoHyun tak sanggup melihat orang yang membuat hari-harinya ceria, terbaring lemah melawan kematian. Ya.. SeoHyun tahu hal itu, tapi dia tetap saja tidak percaya.
 SeoHyun menunduk, membenamkan wajahnya di ranjang tempat WonJi tidur. Kedua tangannya menggenggam erat tangan WonJi. SeoHyun terisak.
Tiba-tiba monitor detak jantungnya WonJi berbunyi, yang menandakan WonJi memiliki kesadaran, meski baru tahap merasakan sentuhan.
SeoHyun kaget. Dia mengadahkan kepalanya dan melirik kearah monitor detak jantung itu. dan beberapa detik kemudian wajahnya beralih memandang WonJi.
“Won-ah,, kau bisa mendengarku kan?? Won-ah ireonna.. Ireonna…!!” SeoHyun mendekatkan telinganya ke dada WonJi untuk memeriksa detak jantungnya.
                “Ada apa eonni? Apa terjadi sesuatu??!” Tanya WonJa melihat kelakuan SeoHyun.
                “Detak jantungnya..!! dia bisa mendengar kita WonJa..!!” SeoHyun berkata dengan wajah gembira.
                “Seo-ah…….”
                “Ah.. Won-ah.. Kau bisa mendengarku..??!”
                “Oppa…!!” WonJa ikut memeriksa keadaan WonJi.
WonJi berusaha untuk membuka matanya, memastikan bahwa orang yang menyebut namanya itu benar-benar SeoHyun, yeoja yang di rindu.
“Seo..Hyun.. jin..jja??” kata WonJi sambil berusaha menyentuh pipi SeoHyun.
                “Iya.. Iya Won-ah,, Ini aku…” SeoHyun berkata pelan, untuk menyembunyikan suaranya yang parau karena menahan tangis.
WonJa yang melihat hal itu, menutup mulutnya dan perlahan berjalan keluar ruangan, untuk memberi waktu kepada sepasang kekasih itu sebelum perpisahan mereka.
“Won-ah, gwenchanaseyo??” Tanya SeoHyun dengan suara pelan.
                “Ne,, Seo-ah,, nan gwencha..na…” jawab WonJi terbata-bata mengatur nafasnya.
                “hmm…” SeoHyun tersenyum.. “Bogoshipoyo Won-ah…”
Tes… Tes… Air mata SeoHyun tak dapat dibendungnya lagi.
“Kena..pa kau me..nang..iis Seo-ah??”
                “Anii,, mataku kemasukan debu...” SeoHyun berbohong, dia mengucek dan menghapus air matanya.
WonJi tersenyum.
“Na..do.. Bogo..shi…po-Ukh……” WonJi menyerngitkan matanya, sakit itu terasa lagi.
                “Won-ah.. Wae gurro??!” SeoHyun mulai merasakan sesuatu yang aneh pada WonJi.
                “Nan.. Gwen..chana…. Ah, Han-ah… Sa..rang..haeyo….”
                SeoHyun tersenyum.
                “Nado Won-ah,, Nado jeongmal saranghanda…”
Chuup~
SeoHyun mengecup bibir WonJi lembut.
WonJi tersenyum. Namun, sedetik kemudian wajahnya terlihat pucat, dan matanya terlihat menyipit. WonJi berusaha untuk menahan sakit itu, tetapi dia tidak bisa menyembunyikannya.
“AARRGHHT..!!!” WonJi berteriak.
                “Won-ah..!! Wae?? Won-ah..!!” SeoHyun terlihat panik. Dia berlari keluar untuk memanggil WonJa. Beberapa detik kemudian WonJa datang bersama beberapa orang dokter.
WonJi masih berteriak. Tubuhnya bergetar dan menggeliat tak karuan, sedangkan beberapa orang dokter itu berusaha menenangkannya. Rasa sakit yang selama ini ditahannya, sekarang tergambar jelas dihadapan SeoHyun dan WonJa.
SeoHyun menangis keras. Beberapa orang suster membawa mereka keluar ruangan. Diluar, SeoHyun bersandar di dinding rumah sakit itu. Dia masih menangis.
Beberapa menit kemudian, dokter yang menangani WonJi tadi keluar. Namun, wajah dokter itu terlihat sedih. Melihat hal itu, spontan SeoHyun berlari masuk mendekati ranjang WonJi. Tangannya meraih tangan WonJi dan menggenggamnya erat.
“Won-ah… Wae..?? Won-ah..!! Ireonna..!! WON-AH…!!!” SeoHyun berteriak.
SeoHyun memeluk erat tubuh WonJi. Dia sungguh tidak mau berpisah dari WonJi, namja yang telah menemaninya semusim ini. Pelukan SeoHyun seperti tak bisa lepas. Dan suara tangisannya terdengar begitu menyedihkan. Diluar, suara gemuruh hujan ikut menambah haru suasana.
Hujan. Hal yang paling dibenci SeoHyun, telah 2 kali membawa pergi orang yang disayangnya. Dan sekarang, bisa dipastikan, SeoHyun benar-benar akan membenci hujan~~

By : magnaeBlogger  (@sylph3117)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar